Harus diakui bahwa perpolitikan di
Indonesia saat ini masih sangat jorok, penuh skenario dan kepalsuan. Proses
politik tidak lagi difokuskan pada perwujudan kesejahteraan rakyat, masih
bergelantungan dengan berbagai kepentingan pihak yang terlibat secara dominan dalam politik. Hal ini dapat terlihat dengan semakin eksisnya kasus korupsi di kalangan politisi dan
aparatur negara; semaraknya tikus berdasi yang berkeliaran dalam siklus
birokrasi dan pemerintahan Indonesia.
Seperti yang dilansir oleh news.detik.com/Senin, 27/05/2013, Wamenkumham Denny Indrayana menyatakan
bahwa sepanjang tahun 2004 hingga 2013, tercatat 291 kepala daerah baik Gubernur, Bupati serta Walikota terjerat
korupsi, sedang untuk aparatur
negara tercatat ada 1.221 orang. Sungguh
ironis, namun itulah kenyataan pahit yang harus kita ketahui.
Sejalan dengan kehidupan
politik Indonesia saat ini, seperti
ungkapan Setia Permana dengan meminjam
pendapat Larry Diamond yang mengatakan bahwa “kesulitan yang dialami
oleh banyak negara demokrasi baru menunjukkan bahwa membentuk suatu negara
demokrasi merupakan satu hal yang mudah, sedangkan yang seringkali lebih sulit
adalah tugas mempertahankannya, mengonsolidasikannnya, serta memberikan
vitalitas dan makna kepadanya. Persoalannya adalah ketika energi kekuasaan
habis dipergunakan hanya untuk membangun dan memusatkan dominasi, bukan untuk
melayani rakyat.” Pernyataan ini
secara tegas mengingatkan kita bahwa energi para politisi dan petinggi negara
ini terkuras untuk kepentingannya sendiri, tidak lagi memperdulikan amanat dari
rakyat yang telah memberi kepercayaan.
Hal ini juga sekaligus
menggambarkan kanibalisme politik yang masih sangat kental mencerminkan kehidupan
birokrasi dan pemerintahan Indonesia. Belum tercipta kolaborasi yang baik antar
partai politik, yang terlihat justru
seolah sedang terjadi kompetisi ping-pong politik antar parpol. Setiap parpol
selalu siap siaga menanti kesalahan dari parpol lain guna memberi hentakan ‘smash’ bagi
parpol yang dianggap lengah. Tidak cukup hanya dengan itu saja, jika smash yang
diberikan telak mengenai lawan politik, maka sifat kanibal dari parpol akan
keluar untuk memangsa jantung parpol yang terkapar dan mulai berlakunya hukum
rimba, siapa yang kuat maka dia yang menang. Hal inilah yang tepat
menggambarkan kehidupan politik Indonesia saat ini. Sejalan dengan hal ini,
mengutip pendapat Robert A. Dahl yang memberi cerminan bahwa “para pemimpin di negeri
ini adalah para pemimpin yang didorong oleh rasa gila kebesaran,
kelainan jiwa, kepentingan pribadi, ideologi, nasionalisme, keyakinan agama,
perasaan keunggulan batin, atau hanya mengandalkan emosi dan kata hati, dan
oleh karena itu telah mengekspoitasi kemampuan negara yang luar biasa untuk
mencapai tujuan-tujuan pribadi mereka.”
Dari berbagai fenomena
tragis yang terkait dengan kotornya politik di negeri ini, banyak wacana yang tercuat mengatakan bahwa Indonesia sedang menuju kegagalan, atau bahkan
tengah berada di gerbang
kegagalan. Reformasi yang kita agung-agungkan tidak membawa perubahan berarti jika hal ini terus dibiarkan. Bahkan seringkali terdengar suara sumbang yang kerap menyatakan bahwa era
reformasi tidak lebih baik dari era orde baru di masa rezim Soeharto. Hingga
detik ini Indonesia masih digeluti kegalauan dan penuh kebingungan untuk
melakukan perubahan. Hal ini dipertegas oleh Yeremias T. Keban yang mengatakan
bahwa persoalan yang kita hadapi saat ini adalah dari mana memulai pembangunan?
Dimulai dari elit birokrasi, elit legislatif, atau elit yudikatif? Mungkinkah
para elit yang dianggap lemah dan bermasalah selama ini, mampu dan mau
membangun dirinya? Bukankah ini merupakan suatu ‘paradox dalam pembangunan’ di
tanah air kita yang selama ini diabaikan? Dilema ini telah lama mendorong
timbulnya pesimisme dalam membangun birokrasi dan perpolitikan di Indonesia.
Namun sayangnya,
generasi muda Indonesia justru tertidur pulas dikala mendengar jeritan negeri
ini. Hal ini perlu dipertanyakan, apakah karena takut atau diselimuti motif
penyelamatan diri (cari aman)? Politik bukanlah hanya tanggungjawab para pejabat yang memiliki
kekuasaan. Mereka bukanlah Dewa dan selalu benar; dan rakyat, terutama generasi
muda bukanlah kerbau. Soe Hoek Gie pernah mengatakan bahwa jika kaum
intelenjensi hanya bisa diam disaat situasi lagi kacau, mereka telah
melunturkan jati-diri sendiri. Lebih baik diasingkan daripada berjalan pada
kemunafikan, inilah jargon yang tepat untuk membangun sensitivitas membaharui
negeri ini. Sudah saatnya generasi muda ambil bagian. Generasi tua perlu saling
membangun relasi yang baik dengan generasi muda sebagai penerus. Harus ada rasa
kepercayaan terhadap yang muda untuk membenahi perpolitikan dan pembangunan
birokrasi Indonesia. Tantangan akan semakin rumit, dan jika hal ini terus
biarkan maka generasi muda harus siap menghadapi masa depan politik yang suram
dan penuh kekacauan. Untuk itu, sebelum terlambat sebaiknya generasi muda tidak
terus menunda untuk melakukan perbaikan
negeri ini.
(Penulis adalah
Mahasiswa Administrasi Publik-Universitas Katolik Parahyangan Bandung)
|
|
No comments:
Post a Comment